Senin, 04 Juli 2011

Tamra The Island eps 1



Sekitar 300 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1640 masehi di masa kekuasaan dinasti Chosun/ Joseon. Joseon merupakan kerajaan yang tertutup dari dunia luar. Meskipun Negara-negara tetangganya sibuk berlayar dan berdagang sampai ke tempat yang jauh namun Joseon merupakan satu-satunya negara yang tidak bergabung dalam kancah perdagangan tersebut. Namun bagaimanapun juga jauh di Negara-negara Eropa beberapa orang sangat tertarik dengan dunia timur. salah satunya adalah seorang pria muda yang tampan berkebangsaan Inggris, William Spencer.

Inggris 1640 masehi

Di sebuah ruangan dengan arsitektur Victorian, itu adalah kamar William, seorang dukun sedang berkonsentrasi dengan sebuah pot keramik berwarna putih, ia Nampak mebolak-balikkan dan berusaha ‘mambaca ‘apa yang terkandung dalam pot keramik itu. Kegelapan malam, kata sang dukun, sebuah ritual rahasia, kebebasan….bla…bla…bla… ( padahal sepertinya itu sebuah pispot tempat orang jaman dahulu buang air besar… :D ). William bahkan sampai menempelkan pot keramik itu ke kepalanya’ aku bisa merasakan kekuatan dari timur…sangat menyegarkan…. hahahahaha


Terdengar langkah kaki menuju kamar, William bergegas menyembunyikan benda itu dan menyuruh si dukun  pergi dan ia pura-pura kembali menghadapi buku pelajarannya. Ibu William masuk, ia adalah seorang wanita bangsawan yang cerewet dan sangat tidak menyukai hobby William yang suka mengoleksi benda-benda dari Asia. Dan ia juga tidak menyukai persahabatan putranya dengan seorang pelaut muda dari Jepang, Yan Kawamura. Sebaliknya, William sangat mengagumi laki-laki itu.

Yan Kawamura, seorang pelaut Jepang yang telah menjelajahi berbagai Negara, ia teman dekat William dan yang memberikan pengaruh pada William tentang dunia timur dan karena pengaruh Yan Kawamura-lah akhirnya William memutuskan melaksanakan obsesinya berburu harta karun di dunia timur. Mereka menumpang sebuah kapal Belanda yang hendak menuju Nagasaki.



Di perairan dekat pulau Jeju, seorang tawanan elegan tengah berjuang melawan mabuk laut, padahal semua orang disekitarnya sudah muntah , tetapi ia masih berusaha menahannya dan berusaha tampil jaim di depan para polisi. Di tempat lain di pulau Jeju, seorang gadis tengah menyelam di dasar lautan mencari sejenis kerang, abalone. Ternyata ia sedang bersama wanita-wanita lain berlomba mengumpulkan kerang dipimpin oleh seorang wanita tua. Gadis  penyelam itu adalah Jang Beo Jin.

Tawanan elegan itu kembali membuat ulah di daratan, di tempat lain sedang dilakukan sebuah upacara adat yang dipenuhi hidangan enak termasuk abalone hasil tangkapan Beo Jin. Seorang pria memberi Beo Jin sebuah medali sebagai bayaran atas  abalonnya. Setelah upacara selesai warga desa saling berebut makanan, tawanan itu melihatnya dengan tatapan jijik, apalagi setelah Beo Jin menubruknya. Beo Jin memakan makanannya dengan lahap dan tawanan itu memandangnya dengan kesal. Segerombolan anak berlari dan menubruk Beo Jin, gadis itu berusaha berpegangan pada si tawanan, tapi si tawanan berkelit. Akibatnya Beo Jin terjatuh diatas meja ritual. Wanita tua yang memimpin acara menyelam itu ternyata adalah ibu Beo  Jin, ia sangat marah mendengar putrinya berbuat onar di tempat upacara.



William membuka mata, sosok-sosok menakutkan tengah menyerangnya. Ia berteriak minta tolong. Tetapi ternyata hanya mimpi, karena saat ini ia tengah berada dalam kapal brsama pelaut-pelaut Belanda menuju Nagasaki. Yan bersikap mencurigakan, ternyata ia memang sudah besekongkol dengan ibu William untuk membawanya berlayar dan menyetujui kontrak dengan bayaran untuk membawa William kembali sebelum hari pernikahannya. William tidak tahu, yang ada dalam pikirannya hanya obsesinya terhadap dunia timur. Dan rupanya William benar-benar terobsesi pada pot keramiknya itu.

Di tempat lain, Beo Jin sedang bersembunyi dari ibunya, ibunya sangat marah karena Beo Jin juga menghilangkan medali itu. Tiba-tiba badai datang.  Badai menghantam kapal yang ditumpangi William yang kebetulan melintas tak jauh dari sana. William bersama harta karunnya itu terlempar ke laut dan terpisah dari teman-temannya,

Beo Jin berusaha mati-matian mencari medali itu, tiba-tiba ia teringat pria yang kemarin ditubruknya. Ia segera mencari tahu siapa pria itu bahkan mencarinya sampai ke penjara saat tahu ternyata pria itu seorang tawanan. Beo Jin memaksa pria itu mengembalikan medalinya, tetapi pria itu sama sekali tidak paham maksud Beo  Jin Ternyata pria muda itu adalah seorang putra bangsawan yang dihukum karena menggoda seorang wanita yang sudah menikah. ia diasingkan ke Jeju untuk belajar tentang kehidupan.

Beo Jin dihukum berat oleh ibunya, semua meminta ibu Beo Jin mengampuni Beo Jin, termasuk adik perempuannya, Beo Seol. Beo Seol jauh berbeda karakternya dengan Beo Jin yang liar dan semaunya sendiri, Beo Seol adalah seorang anak perempuan yang sangat manis. Tapi sia-sia saja, ibunya tak mau memaafkan kesalahan Beo Jin.

Tawanan itu dibawa ke keluarga Jang ( keluarga Beo Jin ), ia harus menetap dalam rumah keluarga pribumi dan belajar kehidupan. Tentu saja ia menolak dan meminta satu tempat untuknya hidup sendiri saja. Ia berdalih meskipun seorang tawanan, ia adalah bangsawan.  Tapi semua orang mentertawakannya dan permintaannya dianggap berlebihan karena ia hanyalah seorang tawanan. Mau tak mau pria itu menuruti perintah.

Ia kembali berulah di rumah Beo Jin, tapi ibu Beo Jin benar-benar wanita yang galak, ia bahkan menyebut pria itu ‘cacing’ tetapi pria itu tidak bisa berkutik sama sekali. Mau tak mau ia harus menerima perlakuan yang ditujukan padanya. Dan saat bertemu dengan Beo Jin, pertengkaran pun tak dapat dihindarkan, Boe Jin masih menuntut medalinya dikembalikan. kasihan sekali pria itu, ia seorang bangsawan, keluarganya kaya dan karena menjadi tawanan maka ia harus menerima hal-hal yang tidak biasanya, termasuk tidur diatas jerami dan memberi makan babi. Untung ayah Boe Jin baik hati dan berusaha menghiburnya walaupun pria itu sedikit menyebalkan dan tidak menunjukkan sedikitpun rasa terimakasih.

Beo Jin yang seharian tidak mendapatkan tangkapan tiba-tiba melihat sesuatu yang berwarna keemasan di balik karang, saat hendak memotongnya tiba-tiba sesosok wajah pucat muncul. ia terkejut, wajah pucat itu juga sama-sama terkejut. Belum hilang keterkejutan masing-masing tiba-tiba serombongan wanita penyelam dating. Beo Jin bingung dan menjatuhkan tubuh berambut pirang itu ke dalam air. Pria berambut pirang itu adalah William yang selamat dari kecelakaan. Beo Jin melihat dengan heran sosok aneh di depannya.

William ketakutan melihat Beo Jin yang membawa pisau, ia teringat mimpinya beberapa hari yang lalu. ia mengira berada di pulau Delapan yang diceritakan Yan sebagai pulau yang mengerikan. Ia bertanya pada Beo Jin apakah ini pulau Delapan??apakah ini Jepang?? Beo Jin sama sekali tak tahu apa yang dikatakan William, ia malah mencarikan beberapa ikan untuk William karena mengira pria itu lapar. William fasih berbahasa Belanda dan Jepang namun ia tidak tahu bahasa Korea. Beo Jin sangat terpesona dengan warna rambut William yang keemasan. Seorang pria tua yang dipanggil ‘kakek’ oleh Boe Jin bergabung dengan mereka dan mengatakan jika seseorang dari Han Yang ( Seoul ) menemukan si rambut pirang itu, maka pria itu akan mati. Boe Jin ketakitan dan membawa William bersembunyi di sebuah gua. William masih takjub dan bingung dengan semua kejadian di sekitarnya. Beo Jin berusaha menjalin komunikasi denga William. Tapi pria itu salah persepsi ketika Beo Jin menyebutkan namanya, di telinga William kata "Beo Jin" terdengar seperti “ Virgin “,,dan lucu sekali mereka sama sekali tidak paham bahasa masing-masing, William menjawab “ Me Too” ( aku juga ), Beo Jin mengira nama William adalah Mi Tu (Me Too )

Tawanan itu menjadi sangat populer dan terkenal di Jeju, para wanita dan gadis tak segan menggodanya saat ia berjalan di jalan umum. Apalagi didukung wajahnya yang tampan dan reputasinya sebagai penggoda wanita.

Bangsawan tawanan itu mulai membiasakan diri hidup sebagai orang biasa, ternyata ia bernama Park Gyoo, seorang bangsawan dan pelajar dari Han Yang. Pria itu menjadi tanggung jawab Beo Jin selama tinggal di keluarga Jang, meski menolak tapi sia-sia saja. Malamnya Park  Gyoo menemukan medali milik Beo Jin tapi dengan seenaknya melemparnya begitu saja. William mengira ia telah sampai Nagasaki, ia berbaring di tepi pantai dan ia teringat ibunya.

Pagi-pagi terjadi keributan kecil di rumah Beo Jin, ibu Beo Jin sangat disiplin dan setiap pagi mengatur semua pekerjaan yang harus dilakukan. Beo Jin yang bangun kesiangan mendapatkan semprotan pedas dari ibunya, demikian pula dengan Park Gyoo. Park Gyoo ini benar-benar menyebalkan. Mentang-mentang bangsawan, ia sama sekali tak mau membantu Beo jin yang keberatan membawa barang di punggungnya dan juga tak mau membantu pekerjaan Boe Jin di kebun jeruk.Beo Jin membawa beberapa makanan ke tempat William bersembunyi.

Pagi harinya, Park Gyoo sedang kebingungan bagaimana caranya BAB,  Beo Seol menunjukkan tempat di pantai. Di saat yang sama William sedang berusaha mencari pot keramik kesayangannya. Tiba-tiba mereka berdua melihat benda yang sama. William gembira sekali bertemu ‘kesayangan’-nya sedangkan Park Gyoo gembira sekali akhirnya menemukan tempat yang bagus untuk BAB. Mereka berlari meyambut 'benda berharga' itu…..hahahahahahahahaha,,asli  lucu bangeeeet,……Bersambung ke Tamra The Island episode 2















Tidak ada komentar:

Posting Komentar