Senin, 04 Juli 2011

Tamra The Island eps 2




William hendak berlari mengejar harta karunnya, namun kakek tua itu menahannya dan  memberi isyarat untuk bersembunyi. Akhirnya Park Gyoo yang mendapatkannya. William jelas kelihatan sedih sekali. Park Gyo menyimpan benda itu dengan sebaik-baiknya.

Kakek tua itu memperingatkan pada William bahwa sampai saat ini belum pernah ada orang asing yang bisa keluar dari Joseon dengan hidup-hidup. Tapi William tidak paham dengan kata-kata kakek tua itu. Akhirnya mereka bertukar barang masing-masing. Kakek tua menginginkan wig milik William dan sebagai gantinya kakek itu memberikan topeng untuk William. Topeng raja, kata si kakek

Terjadi pencurian kuda di gudang milik kantor kejaksaan di desa San Bang. Penjaganya tertidur pulas sehingga dengan mudah pencuri memasuki kandang dan mengambil kuda-kuda. Penjaga yang lalai dibawa oleh polisi untuk mendapat hukuman di kantor pengadilan.

Park Gyoo kembali rebut di rumah keluarga Jang. Ia meributkan masalah makanan yang dianggapnya seperti makanan babi. Makanan seperti itu tak layak dimakan manusia, katanya sambil pergi. Ayah Beo Jin heran melihat Park Gyo yang sejak kedatangannya ia tak pernah sekalipun memakan sesuatu.

Diam-diam Park Gyoo mulai mengamat-amati kejadian di sekitarnya dan membuat tanda-tanda di dalam peta yang dibawanya. Pertama ia menuliskan kata “kuda” di satu bagian peta, kemudian ia juga mengunjungi sebuah peternakan kuda yang lain dimana penjaganya terus saja mengeluh karena ia tak bisa tidur dengan tenang setelah kejadian pencurian itu.

di pantai William yang mulai bosan melihat-lihat sekitar. Sekelompok wanita tengah memotong-motong ikan dan menyantapnya mentah-mentah. William melihat mereka dengan tatapan jijik.

Akhirnya William menemukan cara berkomunikasi dengan beo Jin, yaitu dengan menggunakan gambar di pasir. Ia bercerita pada beo Jin bahwa dirinya berasal dari Inggris, tinggal di sebuah kastil bersama seorang ibu dan memiliki seorang tunangan. ia pergi berlayar dan membawa harta karunnya. namun ombak besar menghempas kapal dan ia kehilangan harta karunnya. Untungnya ia adalah laki-laki yang beruntung karena seorang putri duyung menyelamatkan dirinya. Beo Jin senang sekali William menganggap dirinya sebagai penolong. akhirnya William dan Beo Jin berhasil memperkenalkan nama masing-masing. William…William…William….Beo jin mengulang-ulang nama itu sambil tertawa.

Teman-teman Beo Jin iri pada gadis itu, sebab Beo Jin bisa mengikuti perjalanan menyelam karena ia putri dari keluarga Jang. padahal Beo Jin sendiri tidak menginginkan ikut serta dalam perjalanan tersebut. Ia sangat mengetahui kemampuannya yang buruk, tapi ibunya terus saja memaksa.

Di rumah Jang, Park Gyoo meminum air suci yang dikhususkan bagi para leluhur. Beo Seol memperingatkannya, ayah beo Jin sangat khawatir namun Park Gyoo berkata akan mengambil air lain sebagai gantinya. Park Gyoo menuju ke sumber air, namun disana telah banyak sekali gadis-gadis dan wanita. Seorang wanita Nampak keberatan membawa tempat airnya,  Park Gyo menawarkan bantuan. Semua gadis memujinya dan ssemua juga ingin dibantu membawa tempat airnya seperti wanita tadi sampai Park Gyoo kehabisan tenaga. reputasinya sebagai penggoda wanita yang sudah beristri membuat wanita-wanita di desa itu, bahkan wanita tua sekalipun berani menggodanya. Seorang pegawai pemerintahan melihat dan salah paham dengan Park Gyoo.

Sementara Beo Jin tengah mengikuti pelatihan bersama wanita-wanita penyelam itu, namun pikirannya terfokus pada William. William pasti lapar, pikirnya. Benar saja, di tempat lain William tengah sibuk mencari ikan dengan menggunakan kayu yang diruncingkan, dan tentu saja selalu gagal. sementara para wanita penyelam mendapatkan kerang raksasa. Mereka merayakan dengan bahagia.

Park Gyoo diam-diam melakukan penyelidikan lagi. Ia menemukan jejak aneh. William ada di sekitar tempat itu dan langsung bersembunyi saat melihat Park Gyoo. Para wanita penyelam memasak bersama hasil tangkapan mereka, Beo Jin Nampak tidak tenang apalagi salah seorang wanita it uterus saja mencercanya karena kemampuannya yang sangat buruk. ibunya juga ikut-ikutan memarahinya, Beo Jin menangis. beo Jin sangat benci menjadi penyelam. Malam itu di desa Beo jin terjadi keramaian, seorang pencuri masuk rumah warga mencurri makanan. Kelihatannya itu William yang kelaparan…hehe

Para wanita penyelam sudah kembali ke desa. Beo Jin bergegas menemui William di gua sambil membawa kesedihannya. ia bertanya pada William apakah jika ia pergi dari tempat itu William bersedia membawa Beo Jin ikut serta?? William tidak paham ucapan Beo Jin. Beo Jin meraih tangan William dan membuat tanda perjanjian dengan ibu jari mereka. Sekarang William tidak dapat pergi sendiri, kata Beo Jin, jika William mengingkari janji maka ia akan diseret oleh ombak laut. Beo Jin curhat pada William, meskipun tak tahu arti ucapan Beo Jin, William menggenngam tangan Beo Jin dan membuat gadis itu merasa lebih baik.

Malam harinya saat pulang Beo Jin bertemu dengan Park Gyo, mereka bertengkar lagi. Tanpa sengaja Beo Jin melihat Park Gyoo menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Beo Jin mengira itu medalinya. Ia berusaha merebut benda itu tapi Park Gyoo lebih gesit dan Beo Jin pantang menyerah sehingga terjadi keributan, ibu Beo Jin melihat keluar dan pertengkaran berakhir. Padahal yang disembunyikan Park Gyoo kan pot keramik yang buat BB itu… ^_^

Malam itu William keluar dari persembunyiannya sambil mengenakan topeng. Ia berhasil menakut-nakuti seorang warga yang sedang mabuk. Tetapi ia kepergok Park Gyoo yang malam itu juga diam-diam menyelinap keluar rumah. William berhasil meloloskan diri dan terlibat aksi kejar-kejaran dengan Park Gyoo. Park Gyoo berhasil melihat wajah William dan terkejut saat menyadari penampilan William. Orang barat….???tanyanya pada diri sendiri. William kabur secepatnya.


Park Gyo yang masih penasaran berusaha mencari jejak si “orang barat”, sementara William dan Beo Jin sedang berusaha menangkap kelinci. Tiba-tiba seorang pria menyergap Beo Jin dari belakang. Beo Jin meronta dan menggigit tangan penyergapnya. William dan Beo Jin melihat sosok tinggi besar dan ternyata pria itu adalah Yan Kawamura. William senang bertemu Yan, Yan bertanya siapa gadis yang bersama William dan meminta William berhati-hati. Yan mengajak William segera meninggalkan pulau itu, tapi William berkeras tak ingin meninggalkan pulau jeju ( Tamra ) secepatnya. sebenarnya ia berat meninggalkan pot keramik kesayangannya yang ada di tangan Park Gyoo atau berat meninggalkan Beo Jin, penolongnya??


Beo Jin keluar hendak membawakan makanan untuk William tapi bertemu dengan Park Gyoo. Melihat gerak-geriknya yang mencurigakan Park Gyo berkata Beo Jin pasti sudah melakukan suatu dosa. Beo Jin berlalu sambil mengejek Park Gyoo. ibu Beo Jin marah-marah makanannya hilang dari dapur. Park Gyoo teringat tingkah Beo Jin yang mencurigakan. ia sampai mendengus kesal.

Beo Jin membawa makanan ke gua tempat William, ia juga bertemu Yan. Tapi Yan tak seramah Beo Jin dan nampaknya ia tidak menyukai Beo Jin. William memberikan benda berupa jalinan rambut pirangnya yang dijalin di pisau abalonnya. para wanita penyelam itu melihat Beo Jin membawanya dan berusaha merebut dari Beo Jin. Para wanita yang lain menuduh benda itu adalah pemberian tawanan itu.


Park Gyo diam-diam juga menyelidiki pegawai pemerintah itu, ia juga bertingkah sangat mencurigakan. Ia melihat Beo Jin membawa topeng milik ‘orang barat’ itu dan juga melihat rambut emas yang dijalin di pisau abalonnya. Ia berusaha merebutnya dari Beo Jin namun segera mengembalikannya kembali. Ia berusaha menggali informasi dari Beo Jin, namun gadis itu pura-pura tidak tahu. park Gyoo semakin curiga. Beo Jin menemui William dan yan di gua tapi ternyata park Gyoo mengikutinya dari belakang dan mereka semua bertemu di goa itu: William, Yan, Park Gyoo dan Beo Jin…….Bersambung ke Tamra The Island episode 3



Tidak ada komentar:

Posting Komentar